TAHAJUD disebut juga shalat malam (qiyamullail).
Dengan tujuan untuk:
- Mendekatkan diri kepada Allah pada saat sunyi di mana orang lain tidur.
- Memohon ampun kepada Allah.
- Ingin mengadu kepada Allah.
- Mempunyai hajat / keinginan agar dikabulkan oleh Allah.
Pada artikel ini kita akan membahas:
- Dalil Dasar
- Waktu Pelaksanaan
- Jumlah Rakaat
- Niat
- Bacaan Ayat/Surat
- Doa (1)
- Doa (2) Afiyah
- Doa (3) Lengkap (Iftitah)
DALIL DASAR:
1. Al-Qur’an surat Al-Isrā’ (17) ayat 79:
وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَۖ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا
“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
KETERANGAN:
- Kata فَتَهَجَّدْ berasal dari hajada yang berarti meninggalkan tidur.
- Menurut jumhur ulama, ayat ini menunjukkan perintah khusus bagi Nabi ﷺ, sedangkan bagi umatnya hukumnya sunnah muakkadah.
2. Hadis No. 1163 dalam Sahih Muslim:
أَفْضَلُ ٱلصَّلَاةِ بَعْدَ ٱلصَّلَاةِ ٱلْمَكْتُوبَةِ ٱلصَّلَاةُ فِي جَوْفِ ٱلَّيْلِ
“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
WAKTU PELAKSANAAN:
Umumnya dilaksanakan pada 1/3 malam terakhir (jam 2 pagi s/d menjelang Shubuh).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى ٱلسَّمَاءِ ٱلدُّنْيَا حِينَ يَبْقَىٰ ثُلُثُ ٱلَّيْلِ ٱلْآخِرُ، فَيَقُولُ:
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu Dia berfirman:
Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya.
Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya.
Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.”
- Hadis no. 1145 dalam Sahih al-Bukhari (Kitāb at-Tahajjud)
- Hadis no. 758 dalam Sahih Muslim (Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn)
Apakah sholat tahajud bisa dilaksanakan sebelum tidur?
Jawabannya bisa “ya” karena sholat tahajud adalah sholat malam (dilaksanakan pada malam hari), namun dari namanya تهجّد berasal dari kata هجد yang maknanya tidur. Bentuk tahajjada → bangun dari tidur untuk shalat. Karena itu, mayoritas ulama (Syafi’iyah, Hanabilah) menjelaskan: Tahajud adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu (lihat Al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi).
Dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumā (HR. Sahih al-Bukhari no. 1120; Sahih Muslim no. 769) disebutkan: Nabi ﷺ tidur terlebih dahulu, kemudian bangun dan shalat malam.
Dalil yang membolehkan sholat malam sebelum tidur, dikenal sebagai “hadis witir”:
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ
“Barangsiapa khawatir tidak dapat bangun pada akhir malam, maka hendaklah ia berwitir di awal malam. Dan barangsiapa berharap dapat bangun pada akhir malam, maka hendaklah ia berwitir pada akhir malam. Karena shalat pada akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat), dan itu lebih utama.”
Sahih Muslim No. 755 (Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn)
JUMLAH RAKAAT:
Umumnya 2 – 8 rakaat, dengan 2 rakaat salam.
(Dapat dilanjutkan dengan shalat witir 1 atau 3 rakaat, lihat artikel Shalat Witir).
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
مَا كَانَ رَسُولُ ٱللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَىٰ إِحْدَىٰ عَشْرَةَ رَكْعَةً
Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah (jumlah rakaat shalat malamnya), baik pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat.”
Catatan: “sebelas rakaat” umumnya dipahami sebagai: 8 rakaat qiyam + 3 witir.
- Hadis no. 1147 dalam Sahih al-Bukhari
- Hadis no. 738 dalam Sahih Muslim
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumā, Nabi ﷺ bersabda:
صَلَاةُ ٱلَّيْلِ مَثْنَىٰ مَثْنَىٰ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ ٱلصُّبْحَ صَلَّىٰ رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّىٰ
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Maka apabila salah seorang di antara kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat (lagi) untuk menjadikan witir bagi shalat yang telah ia kerjakan.”
- Hadis no. 990 dalam Sahih al-Bukhari (Kitāb al-Witr)
- Hadis no. 749 dalam Sahih Muslim (Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn)
NIAT SHOLAT TAHAJUD:
Dalam kitab-kitab fiqih mazhab Syafi’i sering ditulis contoh lafaz seperti:
أُصَلِّي سُنَّةَ ٱلتَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
“Saya niat shalat sunnah tahajud dua rakaat karena Allah Ta‘ala.”
BACAAN AYAT/SURAT DALAM TAHAJUD:
Tidak ada ayat atau surat tertentu yang dibaca ketika sholat tahajud, namun Nabi SAW, sahabat, dan ulama biasanya membaca ayat atau surat yang panjang pada sholat malam, mialnya Al-Baqarah, An-Nisa, Ali Imran, dll.
Anjuran ulama: membaca ayat:
- Tentang rahmat → untuk berdoa (contoh: surah Az-Zumar (39): 53, dan surah Al-A‘rāf (7): 156)
- Tentang azab → untuk berlindung (contoh: surah As-Sajdah (32): 12, dan surah Al-Hajj (22): 19–22)
- Tentang tauhid → untuk memperdalam iman (contoh: Ayat Kursi — surah Al-Baqarah (2): 255, dan Surah Al-Ikhlāṣ (112): 1–4).
DO’A TAHAJUD:
Sebenarnya tidak ada do’a yang khusus, namun bisa do’a apa saja sesuai tujuan/hajat, namun berikut ini saya cantumkan do’a-do’a yang umumnya dibaca ketika tahajud (setelah selesai sholat):
1️⃣ Istighfar (3x)
2️⃣ Doa inti: Allāhumma innī as’aluka raḥmatan…
3️⃣ Doa ampunan total
4️⃣ Doa hajat pribadi (bahasa Indonesia juga boleh)
1. Istighfar (sebagai awal dalam berdoa)
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ، الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullāhal-‘aẓīm, alladzī lā ilāha illā huwa, al-ḥayyul-qayyūm, wa atūbu ilaih.
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
- Sunan Tirmidzi no. 3577
- Abu Dawud no. 1517
2. Doa “Inti”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ
تَهْدِي بِهَا قَلْبِي
وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِي
وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثِي
وَتُصْلِحُ بِهَا دِينِي وَدُنْيَايَ وَآخِرَتِي
Allāhumma innī as’aluka raḥmatan min ‘indik,
tahdī bihā qalbī,
wa tajma‘u bihā syamlī,
wa talummu bihā sya‘atsī,
wa tuṣliḥu bihā dīnī wa dunyāya wa ākhiratī.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau memberi petunjuk hatiku, menyatukan urusanku, memperbaiki keadaanku, serta memperbaiki agamaku, duniaku, dan akhiratku.”
- HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir
- Disebut oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar sebagai doa yang baik diamalkan di malam hari
3. Do’a “Ampunan Total” (Do’a Nabi)
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ
دِقَّهُ وَجِلَّهُ
وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
Allāhumma-ghfir lī dzanbī kullah,
diqqahu wa jillahu,
wa awwalahu wa ākhirahu,
wa ‘alāniyatahu wa sirrahu.
“Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku: yang kecil maupun besar, yang awal maupun akhir, yang tampak maupun yang tersembunyi.”
- Shahih Muslim no. 483
- Kitab: Shahih Muslim, Bab doa dalam shalat malam
4. Do’a Penutup
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي
Rabbighfir lī warḥamnī,
wahdinī, warzuqnī, wa ‘āfinī.
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, rezeki, dan kesehatan.”
- HR. Abu Dawud no. 850
- Tirmidzi no. 284
Do’a Tahajud (versi 2)
Urutan do’a berikut ini mencakup do’a untuk kesehatan dan ketenangan hati.
1️⃣ Istighfar (3–7x) — HR. Tirmidzi 3577
2️⃣ Doa Afiyah (kesehatan) — Abu Dawud 5074
3️⃣ Doa Ketenangan Jiwa — Muslim 2722
4️⃣ Doa Tahajud Nabi (Bukhari 1120 / Muslim 769)
5️⃣ Doa hajat pribadi (bahasa Indonesia juga boleh)
1. Do’a Memohon Afiyah (Kesehatan Lahir Batin)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ
فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Allāhumma innī as’alukal-‘afwa wal-‘āfiyah
fid-dunyā wal-ākhirah.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan (keselamatan) di dunia dan akhirat.”
- HR. Abu Dawud no. 5074
- HR. Tirmidzi no. 3512
2. Doa Ketenangan Hati & Perlindungan dari Kegelisahan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ
وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan,
wal-‘ajzi wal-kasal,
wal-jubni wal-bukhl,
wa ḍala‘id-dayn wa ghalabatir-rijāl.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan hutang dan tekanan manusia.”
- Shahih Bukhari no. 2893
- Kitab: Shahih Bukhari, Kitab Ad-Da‘awat
3. Doa Ketenangan Jiwa (Sakinah Hati)
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا
وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
Allāhumma āti nafsī taqwāhā,
wa zakkihā anta khairu man zakkāhā,
anta waliyyuhā wa maulāhā.
“Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan penolongnya.”
- Shahih Muslim no. 2722
- Kitab: Shahih Muslim, Bab Dzikir dan Doa
Doa Tahajud Lengkap
Berikut ini do’a yang umumnya dianggap do’a tahajud lengkap (karena panjang), tetapi sebenarnya do’a ini dibaca oleh Nabi SAW sebagai do’a iftitah (setelah takbiratul ihram rakaat pertama).
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
Nabi ﷺ apabila bangun malam untuk shalat, beliau membaca:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ
وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ
وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ
وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ
وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ
وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ
فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ
وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ
أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma laka al-ḥamd,
anta qayyimus-samāwāti wal-arḍ wa man fīhinna,
wa laka al-ḥamd,
laka mulkus-samāwāti wal-arḍ wa man fīhinna,
wa laka al-ḥamd,
anta nūrus-samāwāti wal-arḍ,
wa laka al-ḥamd,
anta al-ḥaqq,
wa wa‘duka al-ḥaqq,
wa liqā’uka ḥaqq,
wa qawluka ḥaqq,
wal-jannatu ḥaqq,
wan-nāru ḥaqq,
wan-nabiyyūna ḥaqq,
wa Muḥammadun ḥaqq,
was-sā‘atu ḥaqq.
Allāhumma laka aslamtu,
wa bika āmantu,
wa ‘alayka tawakkaltu,
wa ilayka anabtu,
wa bika khāṣamtu,
wa ilayka ḥākamtu,
faghfir lī mā qaddamtu wa mā akhkhartu,
wa mā asrartu wa mā a‘lāntu,
anta ilāhī,
lā ilāha illā anta.
Ya Allah, bagi-Mu segala puji.
Engkau adalah Penegak (Pemelihara) langit dan bumi serta siapa pun yang ada di dalamnya.
Bagi-Mu segala puji.
Milik-Mu kerajaan langit dan bumi serta siapa pun yang ada di dalamnya.
Bagi-Mu segala puji.
Engkau adalah Cahaya langit dan bumi.
Bagi-Mu segala puji.
Engkau adalah Yang Maha Benar.
Janji-Mu benar.
Pertemuan dengan-Mu benar.
Firman-Mu benar.
Surga itu benar.
Neraka itu benar.
Para nabi itu benar.
Muhammad itu benar.
Hari Kiamat itu benar.
Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri.
Kepada-Mu aku beriman.
Kepada-Mu aku bertawakal.
Kepada-Mu aku kembali (bertaubat).
Dengan (pertolongan)-Mu aku berdebat (membela kebenaran).
Kepada-Mu aku berhukum.
Maka ampunilah aku atas dosa yang telah aku lakukan dahulu dan yang kemudian,
yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan.
Engkau adalah Tuhanku.
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.
- Shahih Bukhari no. 1120 (Kitab At-Tahajjud), 7442
- Shahih Muslim no. 769 (Kitab Shalatul Musafirin)
Semoga bermanfaat.
Kritik, saran, dan masukan dapat dikirim ke admin (klik di sini).
