Setelah selesai sholat -setelah salam- banyak kita jumpai jamaah saling bersalaman. Seharusnya seusai sholat (fardu) itu digunakan untuk berzikir atau wirid, bukan sibuk bersalaman. Jangan-jangan, ada salah pengertian, yaitu salam sebagai penutup sholat diartikan dengan bersalaman.
Berikut ini hasil penelusuran kami tentang bersalaman seusai sholat.
- Tidak ada dalil khusus tentang bersalaman (muṣāfaḥah) setelah sholat, sehingga praktek bersalaman setelah sholat bukan sesuatu yang sunah, namun juga tidak dilarang.
– - Banyak dalil yang berbicara tentang keutamaan berjabat tangan secara umum, sehingga bersalaman setelah sholat hukumnya mubāḥ (boleh), bahkan bisa menjadi mustahabb (dianjurkan) jika diniatkan untuk mempererat ukhuwah.
– - Mazhab Syafi’i:
Dalam kitab Al-Adzkār, hlm. 242, Imam an-Nawawi mengatakan:
وأما المصافحة عقب الصلوات فبدعة لا أصل لها، ولكنها غير مذمومة، لأن أصل المصافحة سنة، فإيقاعها على هذا الوجه ليس ممنوعاً
“Adapun bersalaman setelah shalat, maka itu adalah perkara baru (bid‘ah) yang tidak ada asalnya. Namun, ia tidak tercela, karena asal berjabat tangan itu adalah sunnah. Maka melakukannya dalam bentuk seperti ini tidaklah terlarang.”
– - Ibnu Taimiyah (w. 728H) berfatwa di dalam kitab Majmu’ Fatawa:
وسئل: عن المصافحة عقيب الصلاة: هل هي سنة أم لا؟ فأجاب: الحمد للَّه، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة، بل هي بدعة. والله أعلم
Beliau ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan? Beliau menjawab: “Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat tidak disunahkan, bahkan itu adalah bid’ah.” Wallahu A’lam.
– - Syeikh Bin Bazz (w. 1420 H) termasuk yang melarang bersalaman seusai shalat.
المصافحة بعد سلام الإمام ليس لها أصل بل إذا سلم يقول…
Bersalaman setelah salamnya imam tidaklah memiliki dasar, justru jika usai salam hendaknya mengucapkan ..(lalu beliau memaparkan cukup panjang berbagai dzikir setelah shalat yang dianjurkan syara’).
– - Kaidah: Saddu Adz-Dzari’ah
meski tidak ada larangan secara resmi, tetapi kalau dibiarkan, khawatir nanti orang awam menganggap bahwa bersalaman selepas shalat itu termasuk ritual ibadah yang harus dilakukan sebagai rangkaian kesempurnaan shalat.
– - Mazhab Hanafi membolehkan bersalaman setelah shalat, selama diniatkan untuk mempererat ukhuwah, bukan sebagai sesuatu yang diyakini sunnah khusus.
Ibn ʿĀbidīn berkata:
“لَا بَأْسَ بِالْمُصَافَحَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ كَمَا هُوَ مَشْهُورٌ بَيْنَ النَّاسِ”
— Radd al-Muḥtār ʿalā ad-Durr al-Mukhtār, 2/171
“Tidak mengapa berjabat tangan setelah shalat Subuh dan setelah shalat Ashar, sebagaimana yang masyhur di kalangan manusia.”
– - Mazhab Maliki umumnya tidak menganjurkan berjabat tangan setelah shalat secara khusus, tetapi membolehkannya jika terjadi secara spontan saat bertemu.
Ibn al-Ḥājj al-Māliki berkata:
“وَمِنْ الْبِدَعِ مَا يَفْعَلُونَهُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الْمُصَافَحَةِ جَمِيعًا”
— Al-Madkhal, 2/290
“Termasuk bid‘ah adalah apa yang mereka lakukan setelah salam (shalat), yaitu bersalaman semuanya.”
Namun, beliau juga menegaskan kalau itu tidak sampai haram, hanya makruh bila diyakini sebagai sunnah khusus.
– - Mazhab Hanbali
Ibn Taymiyyah menegaskan:
“المصافحة بعد الصلاة بدعة إن قصد بها أنها سنة راتبة، وأما إن فعلت أحيانا فلا بأس”
— Majmūʿ al-Fatāwā, 23/339
“Bersalaman setelah shalat adalah bid‘ah jika dimaksudkan sebagai sunnah rutin. Namun, jika dilakukan sesekali maka tidak mengapa.”
Referensi:

as salaamu ‘alaikum wr wb ..
teruskan tulisan2 & karya2 yg spt ini :
banyak manfaat nya bagi pembaca
Lanjuut cak haeruddin
Mahmud
malang
as salaamu ‘alaikum wr wb ..
teruskan tulisan2 & karya2 yg spt ini :
banyak manfaat nya bagi pembaca
Lanjuut cak haeruddin
Mahmud
malang