Zikir dan Wirid Setelah Sholat

Umumnya setelah sholat fardu, kita melakukan zikir, atau disebut juga wirid. Sebenarnya apa beda zikir dan wirid, dan apa saja zikir setelah sholat?

Zikir dan Wirid

Zikir adalah kata baku dalam bahasa Indonesia. Bentuk tidak baku yang sering digunakan adalah “dzikir”. Kata ini berasal dari bahasa Arab “Dhikr” yang berarti menyebut atau mengingat Allah.

Perbedaan antara zikir dan wirid adalah sebagai berikut:

  • Zikir adalah amalan mengingat dan menyebut nama Allah SWT yang dilakukan secara spontan dan kapan saja tanpa batasan waktu tertentu. Zikir bisa dilakukan dengan lisan, hati, dan juga tindakan.
  • Wirid adalah bentuk zikir yang tersusun dan teratur, biasanya berupa rangkaian doa atau bacaan tertentu yang dilakukan secara rutin dan berulang-ulang pada waktu yang telah ditentukan. Wirid seringkali dilakukan setelah salat dan memiliki tata cara yang lebih spesifik. Wirid hanya dilakukan dengan lisan dan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah secara teratur.

Singkatnya, semua wirid adalah zikir, tetapi tidak semua zikir adalah wirid. Wirid adalah bagian dari zikir yang dilakukan secara rutin dan terstruktur, sedangkan zikir bisa dilakukan kapan saja dan dengan cara yang lebih bebas. Keduanya bertujuan untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menenangkan jiwa.

Bacaan Wirid (Zikir Setelah Sholat)

Bacaan wirid setelah sholat fardu berjamaah yang diajarkan imam (biasanya imam membaca jahr sehingga jamaah bisa belajar dan mengikutinya) bermacam-macam (bervariasi). Berikut ini kami cantumkan yang ma’tsur (dicontohkan) yang ada riwayatnya dari Nabi SAW dan para sahabat:

  1. Istighfar 3×
    اَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
    “Aku memohon ampun kepada Allah.”
    → Lalu baca: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ…
  2. Tasbih-Tahmid-Takbir
    سُبْحَانَ اللَّهِ ‎33×
    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ‎33×
    اَللَّهُ أَكْبَرُ ‎33×
    لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
  3. Ayat al-Kursī (QS 2:255) sekali setelah salat fardu.
    (Disunnahkan pula membaca al-Ikhlāṣ, al-Falaq, an-Nās—terutama setelah Subuh dan Maghrib dibaca )
  4. Doa Mu‘ādz
    اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
    “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu.”

Dalil-Dalil

Perintah zikir setelah sholat

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا ٱللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا ٱلصَّلَاةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَـٰبًا مَّوْقُوتًا

“Apabila kalian telah menyelesaikan salat, maka berzikirlah kepada Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian apabila kalian telah merasa aman, tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.”
–QS. An-Nisā’ 4:103

Istighfār 3× lalu doa “Allahumma anta as-salām…”

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنَ الصَّلَاةِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا، وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

“Rasulullah ﷺ apabila selesai salat, beliau beristighfar tiga kali, lalu bersabda: ‘Ya Allah, Engkau Mahasejahtera, dari-Mu lah segala kesejahteraan; Maha Berkah Engkau, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.’
Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Masājid, no. 591 (syarḥ Nawawi)

Tasbīḥ-Taḥmīd-Takbīr 33× (disempurnakan dengan tahlīl)

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتِلْكَ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ، ثُمَّ قَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ؛ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Siapa yang bertasbih 33×, bertahmid 33×, dan bertakbir 33× setelah setiap salat, itu 99. Lalu melengkapinya menjadi 100 dengan ‘Lā ilāha illallāh…’, dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan.”
Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Masājid, bab adz-dzikr ba‘da aṣ-ṣalāh

Ayat al-Kursī setelah salat fardu

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

“Barangsiapa membaca Ayat al-Kursi setelah tiap salat wajib, tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali (menunggu) kematian.”
Sunan an-Nasā’ī (ʿAmal al-Yaum wa al-Lailah) dan Musnad Aḥmad; dinilai ḥasan oleh al-Albānī

Doa yang diajarkan kepada Mu‘ādz r.a.

يَا مُعَاذُ، إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَلَا تَدَعْ أَنْ تَقُولَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Mu‘ādz, sungguh aku mencintaimu. Maka jangan engkau tinggalkan untuk mengucapkan di akhir setiap salat: ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu.’”
Sunan Abī Dāwūd no. 1522; Sunan an-Nasā’ī no. 1303; Musnad Aḥmad; dinilai ṣaḥīḥ

Versi Allahumma Antas-salam

Selain yang diriwayatkan dari Tsauban ra di atas, ada juga versi “allahumma antas-salam…” yang diriwayatkan dari ‘Ā’isyah radhiyallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلَّا مِقْدَارَ مَا يَقُولُ:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Sesungguhnya Nabi ﷺ apabila salam (selesai shalat), beliau tidak duduk kecuali sekadar membaca: Ya Allah, Engkau adalah As-Salam, dari-Mu kesejahteraan, dan kepada-Mu kembali segala kesejahteraan, Maha Berkah Engkau wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
Sunan an-Nasā’ī no. 1339, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1512. Dinilai hasan oleh sebagian ulama.

Versi dengan tambahan wa ta‘ālaita

Sering kita dengar do’a “allahuma antas-salam…” yang ditambah “wa ta‘ālaita“, sehingga menjadi:

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkau-lah As-Salām, dari-Mu datang keselamatan, dan kepada-Mu kembali segala keselamatan. Maha Berkah Engkau, Maha Tinggi Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

Namun redaksi doa dengan tambahan وَتَعَالَيْتَ ini tidak terdapat dalam riwayat shahih marfū‘ (langsung dari Nabi ﷺ), melainkan hanya disebutkan dalam sebagian kitab doa/awrād ulama, seperti:

  • al-Jāmi‘ al-Ṣaghīr karya Jalāluddīn al-Suyūṭī (disebut dengan sanad dha‘īf).
  • al-Ad‘iyyah wal-Awrād karya ulama Syafi‘iyyah di Nusantara (misalnya dalam Ratib al-Ḥaddād).
  • Digunakan luas dalam kitab doa amaliyah (tatsnīyah / pujian tambahan).

Zikir Jahri (Dikeraskan)

Umumnya zikir dilakukan dengan suara pelan agar khusyuk dan tidak mengganggu orang lain.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a kepada sesuatu yang tuli dan ghaib, yang kalian seru adalah Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Bukhari)

Imam asy-Syafi’i dalam Kitab al-Um menyatakan:

“Saya mengutamakan para imam dan makmum berzikir sesudah salat dengan suara pelan, kecuali apabila imam menghendaki supaya zikirnya itu dipelajari makmum. Di kala yang demikian itu barulah zikir dikeraskan. Tetapi setelah dirasakan bahwa makmum telah mengetahui (hafal), maka kembali lagi zikir itu dibaca pelan.”

Pada pernyataan Imam Syafi’i di atas, imam mengeraskan suara zikirnya untuk mengajari jamaah. Imam Al-Ghazali -dan ulama lainnya- juga menyatakan suara keras zikir dapat menghancurkan kekerasan hati yang sulit tunduk kepada Allah. Situasi lain adalah dalam majelis zikir agar memudahkan pendengaran dan menguatkan hati yang keras.

Zikir jahri juga pernah dilakukan pada masa Rasulullah ﷺ:

كَانَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

Meninggikan suara saat berzikir ketika orang-orang selesai dari salat fardu itu (pernah terjadi) pada masa Rasulullah ﷺ.”
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 841; Ṣaḥīḥ Muslim no. 583 (riwayat Ibn ‘Abbās).

Berzikir dengan Jari Tangan

Hadits dari Yusairah (sahabiyah r.a.)

Rasulullah ﷺ bersabda kepada para wanita:

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ، وَاعْقِدْنَ بِالأَنَامِلِ، فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ، مُسْتَنْطَقَاتٌ

“Hendaklah kalian bertasbih, bertahlil, dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan hitunglah dengan ruas-ruas jari, karena sesungguhnya mereka (jari-jemari itu) akan ditanyai dan akan berbicara (menjadi saksi).”
Sunan Abī Dāwūd no. 1501, Sunan at-Tirmiżī no. 3583 (dinilai hasan), juga dalam Musnad Aḥmad.

Hadits riwayat Abdullah bin Amr r.a.

رَأَى النَّبِيُّ ﷺ امْرَأَةً تُسَبِّحُ بِحَصًى أَوْ نَوًى، فَقَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا، أَوْ أَفْضَلُ؟ تُسَبِّحِينَ: سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ …

“Nabi ﷺ melihat seorang wanita berzikir dengan batu kecil atau biji kurma, lalu beliau bersabda: ‘Maukah aku tunjukkan bacaan yang lebih mudah bagimu dan lebih utama…’ lalu beliau ajarkan dzikir panjang (Subhanallah ‘adada…).”
Sunan Abī Dāwūd no. 1500, Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 3568.

Ibn Taymiyyah (Mazhab Hanbali)

“Menghitung tasbih dengan jari adalah sunnah, sedangkan menghitung dengan batu, biji kurma, atau benang juga boleh, karena sebagian sahabat melakukannya. Namun, Nabi ﷺ menuntunkan menghitung dengan jari.”
Majmū‘ al-Fatāwā, 22/506.

Imam an-Nawawī (Mazhab Syafi‘i)

–dalam al-Adzkār, beliau menukil hadits tentang jari, lalu berkata: “Ini menunjukkan bahwa lebih utama menghitung dengan jari, namun jika ada kesulitan, tidak mengapa menggunakan tasbih atau biji-bijian.”

Syaikh al-Albānī

– menilai penggunaan tasbih boleh, tetapi beliau tekankan lebih sesuai sunnah dengan jari.

Berzikir dengan Tasbih

Alasan yang “melarang” zikir dengan tasbih antara lain: (1) tidak ada contoh dari Nabi, (2) takut menggeser sunah menghitung dengan jari, dan (3) tasbih bisa dianggap sebagai “simbol” atau menyerupai riya’.

Namun demikian ada riwayat sahabat/tabi‘in yang menggunakannya sebagai alat bantu.

  • Abu Hurairah ra. memiliki tali dengan seribu simpul dan beliau berdzikir dengan itu.
    (Disebutkan dalam Shifat al-Shafwah karya Ibn al-Jawzi, jilid 2 hlm. 80).
  • Sa‘d bin Abi Waqqash ra. pernah berdzikir dengan menggunakan biji kurma.
    (Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam az-Zuhd, no. 1392).
  • Abu Darda ra. punya kantong kecil berisi biji kurma untuk menghitung tasbih.
    (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam az-Zuhd, no. 1637).

Ulama yang membolehkan:

  • Imam as-Suyuthi dalam al-Minhah fi as-Sibḥah: tasbih (alat) mubah, bahkan baik jika membantu konsentrasi zikir.
  • Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani: tidak masalah, karena sahabat juga melakukannya.
  • Ulama mazhab Syafi‘i & Hanafi mayoritas membolehkan.

Ulama yang mengkritik:

  • Ibn Taimiyah: “Berdzikir dengan jari lebih utama, tetapi menghitung dengan tasbih tidak tercela.” (Majmu‘ al-Fatawa, 22/506).
  • Sebagian ulama kontemporer (Salafi) menganggap tasbih sebagai bid‘ah karena menyerupai ibadah yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.

--Silahkan share dengan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *