Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya: (1) Indonesia dan Teori Hausmann, dan (2) Inti Teori Hausmann Terkait Indonesia. Untuk menjaga keutuhan pemahaman, saya sarankan agar anda membaca artikel (1) dan ke (2) terlebih dahulu.
Berdasarkan teori kompleksitas ekonomi Hausmann, untuk mengatasi kondisi ekonomi Indonesia yang “terseok-seok” dan beralih ke perekonomian yang lebih kompleks dan makmur, diperlukan sinergi antara peran pemerintah dan rakyat.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Pemerintah memegang peran kunci dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan kompleksitas ekonomi. Berikut beberapa langkah strategis:
- Investasi pada Human Capital (SDM Unggul):
- Pendidikan Berkualitas: Memperbaiki kualitas pendidikan di semua jenjang, dari pendidikan dasar hingga tinggi, dengan fokus pada STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
- Pendidikan Vokasi dan Pelatihan: Mengembangkan program vokasi dan pelatihan yang kuat, bekerja sama dengan industri, untuk menghasilkan tenaga kerja terampil yang siap pakai dan mampu beradaptasi dengan teknologi baru.
- Riset dan Pengembangan (R&D): Meningkatkan alokasi anggaran dan insentif untuk riset dan pengembangan, baik di universitas, lembaga penelitian, maupun sektor swasta, untuk mendorong inovasi dan penciptaan pengetahuan baru.
- Mendorong Hilirisasi dan Diversifikasi Industri:
- Hilirisasi Sumber Daya Alam: Melanjutkan dan memperkuat program hilirisasi komoditas utama (misalnya nikel, bauksit, CPO) tidak hanya menjadi produk setengah jadi, tetapi hingga produk jadi dengan nilai tambah setinggi mungkin. Ini berarti membangun industri pengolahan yang canggih dan terintegrasi.
- Diversifikasi Ekspor: Mendorong diversifikasi produk ekspor di luar komoditas, ke sektor manufaktur berteknologi tinggi, jasa bernilai tambah (misalnya TI, pariwisata premium), dan industri kreatif.
- Penciptaan Industri Baru: Mengidentifikasi dan mengembangkan industri baru yang memiliki potensi kompleksitas tinggi dan permintaan global, serta memberikan insentif bagi investasi di sektor-sektor tersebut.
- Meningkatkan Iklim Investasi dan Kemudahan Berusaha:
- Penyederhanaan Regulasi: Terus menyederhanakan birokrasi dan regulasi yang menghambat investasi dan inovasi, memastikan kepastian hukum dan iklim bisnis yang transparan.
- Insentif Investasi: Memberikan insentif yang menarik bagi investasi, terutama pada sektor-sektor yang mendukung peningkatan kompleksitas ekonomi (misalnya tax holiday, super deduction tax untuk R&D).
- Infrastruktur: Membangun dan memperbaiki infrastruktur yang mendukung konektivitas, logistik, dan produksi (jalan, pelabuhan, bandara, energi, telekomunikasi).
- Kebijakan Perdagangan dan Industri yang Strategis:
- Promosi Produk Kompleks: Mempromosikan produk-produk Indonesia yang lebih kompleks di pasar global dan membantu UMKM untuk masuk ke rantai nilai global.
- Perlindungan Industri Strategis: Memberikan perlindungan dan dukungan yang tepat bagi industri-industri strategis yang sedang berkembang, tanpa terjebak dalam proteksionisme berlebihan yang menghambat daya saing.
- Kolaborasi Internasional: Menjalin kerja sama dengan negara-negara maju untuk transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, dan akses ke pasar global.
- Mendorong Digitalisasi dan Adopsi Teknologi:
- Literasi Digital: Meningkatkan literasi digital di seluruh lapisan masyarakat untuk mempersiapkan era ekonomi digital.
- Ekosistem Inovasi: Mendorong pertumbuhan ekosistem startup dan inovasi berbasis teknologi.
Apa yang Harus Dilakukan Rakyat?
Rakyat, sebagai bagian integral dari ekosistem ekonomi, juga memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan kompleksitas ekonomi:
- Meningkatkan Kualitas Diri dan Kompetensi:
- Pembelajaran Berkelanjutan (Lifelong Learning): Terus belajar dan mengembangkan diri, tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui kursus, pelatihan, dan literasi digital agar relevan dengan tuntutan pasar kerja yang berubah.
- Mengembangkan Keterampilan Abad 21: Mengasah keterampilan seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan adaptabilitas.
- Mentalitas Inovatif: Berani mencoba hal baru, berinovasi, dan tidak takut menghadapi kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
- Mendukung Produk Lokal dan Nasional:
- Mencintai Produk Dalam Negeri: Memprioritaskan pembelian produk-produk buatan dalam negeri, terutama yang memiliki nilai tambah dan kualitas yang baik, untuk mendorong pertumbuhan industri nasional.
- Memberikan Umpan Balik Konstruktif: Memberikan masukan dan kritik yang membangun agar produk dan layanan lokal terus meningkat kualitasnya.
- Mendorong Kewirausahaan dan UMKM:
- Menciptakan Lapangan Kerja: Bagi yang memiliki kemampuan dan minat, mencoba untuk berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari pekerjaan.
- Meningkatkan Daya Saing UMKM: Bagi pelaku UMKM, terus berinovasi, meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan teknologi (digitalisasi), dan memperluas jangkauan pasar.
- Berpartisipasi Aktif dalam Pembangunan:
- Pengawasan Kebijakan: Masyarakat dapat aktif mengawasi dan memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ekonomi.
- Menciptakan Lingkungan Kondusif: Turut serta menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, tertib, dan produktif, yang mendukung kegiatan ekonomi dan investasi.
Dengan pemerintah sebagai fasilitator dan perencana strategis serta rakyat sebagai pelaksana dan penggerak inovasi, Indonesia dapat secara bertahap meningkatkan kompleksitas ekonominya. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pihak untuk beralih dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi.