Aslinya, saya merasa sebal dan tidak sependapat dengan ustadz yang mengutip ungkapan “Usaha Tidak Mengkhianati Hasil”. Dari mana sih datangnya ungkapan itu? Kok tidak islami banget!
Saya mencoba mencari, dan sampai pada kesimpulan bahwa ungkapan itu tidak berasal dari “siapa” yang khusus (apalagi hadis atau ayat Al-Qur’an), dan tidak berasal dari sebuah kitab atau buku yang kredibel. Ungkapan itu lebih berupa ucapan motivator dalam ceramahnya, atau dalam buku-buku motivasi/ pengembangan diri.
Secara makna, ungkapan tersebut mungkin bersifat universal, karena ada juga padanannya dalam budaya/ bahasa lain, seperti:
- Bahasa Inggris: “Hard work pays off”, “You reap what you sow”
- Arab: مَنْ جَدَّ وَجَدَ (Man jadda wajada — siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
- Jepang: 努力は裏切らない (Doryoku wa uragiranai — usaha tidak akan mengkhianati)
Pada ungkapan “Usaha Tidak Mengkhianati Hasil” digunakan kata “mengkhianati” yang memberi efek emosional yang kuat: usaha dipersonifikasikan seolah-olah memiliki komitmen, hasil dianggap sebagai balasan yang setia, kegagalan tidak langsung menyalahkan hasil, tetapi mengajak refleksi pada kualitas usaha.
Dalil pembenar yang digunakan untuk ungkapan itu adalah QS. An-Najm: 39 — “Manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.”
Tidak Benar dan Menyesatkan
Secara faktual, ungkapan “Usaha Tidak Mengkhianati Hasil” tidak benar karena kenyataanya:
- Banyak orang sudah berusaha keras, disiplin, dan jujur, namun hasilnya tetap gagal.
- Faktor eksternal seperti:
- kondisi ekonomi,
- struktur sosial,
- modal,
- koneksi,
- keberuntungan,
- bahkan kebijakan politik
sering kali lebih menentukan hasil daripada usaha personal.
Jika usaha pasti berbuah hasil, maka tentunya:
- tidak akan ada petani gagal panen,
- tidak akan ada UMKM bangkrut meski dikelola serius,
- tidak akan ada sarjana menganggur.
Selain itu, ungkapan ini mengandung logical fallacy: survivorship bias, karena yang sering ditampilkan adalah: orang berhasil → “lihat, usahanya tidak mengkhianati hasil”, sementara yang tidak terlihat: ribuan orang dengan usaha setara atau lebih besar, tetapi gagal. Ini adalah bias seleksi: kita hanya mendengar cerita yang selamat (survivors), bukan yang tenggelam.
Masalah lain adalah, secara etis berpotensi menyalahkan korban (victim blaming): “Kalau kamu gagal, berarti usahamu kurang.” Ini berbahaya karena:
- meniadakan faktor struktural,
- menekan psikologis orang yang sudah maksimal,
- membuat kegagalan seolah sepenuhnya kesalahan individu.
Dalam konteks sosial, ini bisa menjadi alat pembenaran ketimpangan: yang miskin dianggap malas, yang gagal dianggap kurang usaha.
Secara bahasa, ungkapan ini antropomorfik dan manipulatif karena mempersonifikasikan usaha seolah makhluk bermoral, dan memberi ilusi adanya hubungan kausal moral, bukan hubungan probabilistik. Padahal kenyataannya:
- usaha meningkatkan peluang, bukan menjamin hasil.
- hubungan sebab–akibatnya bersifat statistik, bukan deterministik.
Bahasa yang emosional ini membuatnya terdengar benar, padahal tidak presisi.
Secara ilmiah ungkapan ini juga bertentangan dengan konsep tentang keberhasilan. Dalam ilmu manajemen, ekonomi, dan sosiologi:
hasil = fungsi dari usaha + strategi + konteks + timing + risiko + keberuntungan.
Tidak ada model ilmiah yang menyatakan: usaha → hasil (tanpa variabel lain). Ungkapan ini mengabaikan kompleksitas sistem nyata.
Dampak praktis dari ungkapan ini bisa menyesatkan dalam pengambilan keputusan. Orang akan cenderung:
- bertahan pada strategi yang salah terlalu lama,
- menolak evaluasi objektif,
- menganggap kegagalan hanya soal “kurang sabar”.
Padahal sering kali yang dibutuhkan adalah:
- pivot,
- berhenti,
- atau mengubah arah secara rasional.
Seharusnya “Usaha meningkatkan peluang, bukan menjamin hasil” atau “Hasil adalah kombinasi usaha, strategi, dan keadaan”.
Konsep Islam
Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” secara implisit membangun logika: usaha → hasil. Logika ini tidak lengkap, bahkan berpotensi keliru, karena:
- Islam tidak menempatkan usaha manusia sebagai penentu final hasil,
- tetapi sebagai sebab yang tetap tunduk pada kehendak Allah (masyi’ah).
Al-Qur’an berulang kali menegaskan: “Dan kamu tidak menghendaki, kecuali apabila Allah menghendaki.” (QS. At-Takwir: 29). Ungkapan “tidak mengkhianati” seolah-olah memberi jaminan moral pada usaha, padahal dalam akidah Islam tidak ada jaminan hasil duniawi, bahkan untuk usaha yang benar.
- Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun → pengikut sangat sedikit
- Nabi Ibrahim berusaha menyelamatkan ayahnya → gagal
- Rasulullah ﷺ berdakwah di Thaif dengan sungguh-sungguh → ditolak dan disakiti
Apakah usaha mereka “mengkhianati hasil”? Tentu tidak. Justru di sinilah letak masalah dari ungkapan tersebut, yaitu mengukur hasil dengan standar kasat mata, sementara agama tidak selalu mengaitkan keberhasilan dengan output duniawi.
Islam menilai usaha, bukan hasil:
- pahala ditentukan oleh niat dan ikhtiar, bukan outcome,
- hasil bisa:
- ditunda,
- dialihkan,
- diganti,
- atau tidak diberikan sama sekali di dunia.
Hadis “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” berarti usaha bisa benar dan bernilai tinggi, sekalipun hasilnya nihil secara duniawi. Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” justru menggeser fokus dari niat dan ketaatan ke hasil.
Problem teologis halus: mengaburkan konsep takdir
Ungkapan ini berbahaya jika dipahami sebagai kepastian kausal, bukan probabilitas yang tunduk pada qadar. Dalam aqidah Ahlus Sunnah: manusia berusaha, Allah menentukan hasil. Jika hasil selalu mengikuti usaha, maka konsep ujian, hikmah di balik kegagalan, dan keadilan Ilahi menjadi kabur.
Ayat yang sering dijadikan legitimasi—QS. An-Najm: 39: “Manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya” keliru dimaknai, karena ayat ini tidak menjanjikan keberhasilan duniawi, tetapi menegaskan tanggung jawab moral, terutama dalam konteks akhirat. Menarik ayat ini untuk membenarkan ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” adalah reduksi makna.
Dampak spiritual negatif dari ungkapan ini bisa melahirkan:
- kekecewaan pada Allah saat hasil tidak sesuai harapan,
- krisis iman: “Saya sudah usaha, kenapa gagal?”
- ibadah yang transaksional: usaha → hasil.
Padahal Islam justru melatih:
- ridha,
- tawakkal,
- dan penerimaan atas ketetapan yang tidak sesuai keinginan.
Jadi, dari sudut pandang Islam, ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil”:
- terlalu duniawi
- menyederhanakan relasi ikhtiar–takdir
- berpotensi menggeser tauhid rububiyyah secara halus
- tidak sepenuhnya selaras dengan pengalaman profetik
Seharusnya “Usaha adalah kewajiban, hasil adalah ketentuan Allah”, atau “Ikhtiar adalah perintah, bukan jaminan hasil”.
Ikhtiar – Tawakkal – Ridha
(1) Ikhtiar
Dalam Islam, Ikhtiar adalah kewajiban moral, bukan mesin hasil. Ikhtiar adalah:
- perintah,
- bentuk ketaatan,
- ekspresi tanggung jawab manusia.
Yang penting secara teologis:
- ikhtiar tidak pernah dijanjikan menghasilkan apa pun secara duniawi,
- nilainya independen dari outcome.
Kesalahan ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” menjadikan ikhtiar alat produksi hasil, bukan pemenuhan kewajiban. Padahal, dalam kerangka iman: ikhtiar dilakukan karena benar, bukan karena “pasti berhasil”.
(2) Tawakkal
Tawakkal bukanlah pelengkap usaha, tapi koreksi atas ilusi kontrol. Keliru jika mengangap: “usaha dulu, lalu tawakkal”. Tawakkal justru:
- mendahului dan menyertai ikhtiar,
- berfungsi sebagai penyangga psikologis dan teologis agar manusia tidak mengklaim kendali hasil.
Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” menggerus fungsi tawakkal, karena sejak awal hasil sudah dianggap aman. Jika hasil bisa dijamin, tawakkal menjadi basa-basi.
(3) Ridha
Ridha adalah:
- penerimaan terhadap ketetapan Allah,
- termasuk ketika hasil tidak sesuai harapan, bahkan bertolak belakang dengan usaha.
Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” tidak menyediakan ruang untuk ridha, karena secara implisit mengajarkan bahwa kegagalan adalah anomali.
Dalam kerangka iman, kegagalan justru bagian normal dari ujian, bahkan sering menjadi medan utama pembentukan iman.
Bahaya mengadopsi ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil”
Logika ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” adalah: sukses = usaha benar, gagal = usaha kurang. Ini bertentangan dengan: konsep ujian, konsep hikmah, dan konsep keadilan Ilahi. Ikhtiar dipaksa menanggung beban yang bukan wilayahnya.
Dalam Islam, relasinya bukan linear, melainkan hirarkis:
- Ikhtiar → kewajiban manusia
- Tawakkal → kesadaran bahwa hasil di luar kendali
- Qadar → penentuan Ilahi
- Ridha → respons iman atas hasil apa pun
Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” melompati poin 2–4 di atas dan langsung mengikat 1 ke hasil. Ini bukan sekadar keliru, tapi miskin teologi. Orang yang menginternalisasi ungkapan ini cenderung:
- kecewa ketika gagal,
- mempertanyakan keadilan Allah,
- merasa “ditipu” oleh realitas.
Ini bukan karena imannya lemah, tetapi karena kerangka berpikirnya salah sejak awal.
Dalam kerangka ikhtiar – tawakkal – ridha, ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil”:
- memutlakkan ikhtiar
- meniadakan tawakkal sebagai koreksi
- menghapus ruang ridha
- berpotensi merusak kedewasaan spiritual
Seharusnya, ungkapan yang lebih sehat secara konseptual: “Ikhtiar adalah kewajiban, tawakkal adalah sikap, dan ridha adalah kematangan iman.”
Pandangan Tasawuf Praktis
Dalam tasawuf, akar penyakit batin bukan malas, melainkan rasa memiliki kendali. Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” bekerja secara psikologis dengan menanamkan asumsi tersembunyi:
asal aku berusaha, hasil semestinya mengikuti.
Di titik inilah masalah dimulai.
Usaha tidak lagi diposisikan sebagai bentuk ketaatan, tetapi sebagai alat negosiasi dengan realitas—bahkan dengan Tuhan.
Tasawuf menyebut ini sebagai syirk khafi: bukan menyembah selain Allah secara eksplisit, tetapi menitipkan harapan final pada sebab, bukan pada Musabbib al-Asbab.
Tasawuf mengajarkan bahwa ikhlas adalah melakukan sesuatu tanpa mensyaratkan balasan duniawi. Namun ungkapan ini justru mengajarkan sebaliknya:
- jika hasil baik → usaha dianggap benar,
- jika hasil buruk → usaha dianggap gagal.
Maka nilai amal tidak lagi diukur dari: niat, kejujuran, kesungguhan batin, melainkan dari output. Dalam kacamata tasawuf, ini adalah penurunan kualitas amal: dari ibadah menjadi transaksi.
Tasawuf tidak mengenal urutan “usaha dulu, tawakkal belakangan”. Tawakkal justru adalah fondasi batin sebelum, selama, dan sesudah usaha. Ia berfungsi memutus klaim ego atas hasil.
Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” membuat tawakkal menjadi sekadar slogan, dan menghapus kebutuhan akan ridha. Sebab ridha baru relevan ketika ada kemungkinan hasil tidak sesuai harapan. Jika hasil sudah “dijamin” oleh usaha, untuk apa ridha? Tasawuf justru tumbuh di ruang ketidakpastian itu.
Dalam tradisi tasawuf, orang yang gagal tetapi menjaga adab di hadapan Allah justru dinilai berhasil, sedangkan orang yang berhasil tetapi hatinya bergantung pada hasil dinilai rugi.
Para arif tidak bertanya: “Apa hasil dari usahaku?” Tetapi: “Apakah aku tetap lurus ketika hasil tidak sesuai harapan?” Ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” gagal menjawab pertanyaan kedua. Ia hanya memelihara ego agar tetap merasa aman.
Kegagalan bukanlah pengkhianatan, tetapi pembongkaran ego. Tasawuf melihat kegagalan bukan sebagai: bukti kurang usaha, atau pengkhianatan sebab-akibat, melainkan sebagai mekanisme Ilahi untuk menghancurkan klaim diri.
Ketika seseorang berkata, “Saya sudah berusaha tapi gagal”, tasawuf akan bertanya: “Bagian mana dari dirimu yang masih ingin mengendalikan hasil?”
Kesimpulan:
Dari perspektif tasawuf praktis, ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil”:
- menguatkan semangat, tetapi melemahkan tauhid batin,
- menenangkan ego, tetapi mengeraskan hati saat gagal,
- mendorong kerja keras, tetapi mengaburkan makna ikhlas.
Ia mungkin berguna di ruang motivasi, tetapi berbahaya jika dibawa ke ruang spiritual.
Ungkapan yang lebih jujur secara tasawuf adalah “Usaha adalah adab hamba, hasil adalah wilayah Tuhan” atau “Tugasmu berusaha, bukan memastikan hasil.”
Wallahu a’lam bishowab.
Cileungsi-Bogor, 27 Rajab 1447 H (16 Jan 2026)
